3 Logical Fallacies Dalam Kasus Covid Yang Melambung


Oleh : Ahmad Budi Ahda, Lc. Founder Abda Publisher

Setiap hari saya dengar kabar berita duka, entah offline dari tetangga sekitar, ataupun online dari beranda FB dan kabar broadcast WA, lebih lebih beberapa hari ini selain kabar duka juga ditambah dengan kabar permohonan bantuan plasma darah bagi mantan pengidap korona untuk penderita yang sedang berjuang melawan virus ganas ini.

Memuncaknya angka wabah di indonesia beberapa hari ini ada beberapafaktor, namun dari beberapa faktor ada satu sebab yang saya kira adalah biang kerok, sebab pokok, sebab utama, yaitu menyebarnya teori konspirasi bahwa virus korona hanyalah hoax, dan vaksin hanyalah akal akalan bisnis elit global untuk mengeruk keuntungan. 

Para penyebar teori konspirasi ini semestinya harus bertanggung jawab terhadap apa yang telah mereka lakukan, menyebarkan sesuatu yang sifatnya masih dugaan dengan bukti cocoklogi jelas tak sebanding dengan bukti saintifik dengan metode ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan.

Dengan tidak bermaksud menggurui anda, dalam tulisan kali ini saya ingin membahas beberapa logical fallacy yang kerap digunakan oleh konspirator dan penganutnya dalam menolak covid.

Beberapa Logial fallacy itu diantaranya :

1. Sesuatu yang bersifat pasti dengan bukti empirik yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah (virus dan vaksin), dibantah dengan sesuatu yang hanya bersifat dugaan dengan bukti cocoklogi (teori konspirasi)

contoh : 

Saya terbisa pergi menggunakan mobil, suatu ketika ada 2 orang tamu datang kerumah saya mendapati mobil saya tidak ada dirumah. tamu pertama langsung pulang karena menurutnya saya tidak sedang dirumah dibuktikan dengan mobil yang tidak ada. namun tamu kedua mengetuk pintu dan menanyakan langsung apakah saya dirumah apa tidak, ternyata saya sendiri yang membkakan pintu.

Tahap pembuktian tamu pertama adalah tahap pembuktian teori konspirator, menyimpulkan sesuatu dengan bukti yang hanya bersifat dugaan dan cocoklogi, namun tahap pembuktian tamu kedua dengan mengetuk pintu dan menanyakan apakah saya dirumah berada dalam tahap qat'iy. pendapat yang kuat!!

Pembuktian ilmuan tentang keberadaan virus korona dan vaksin berada dalam tahap seperti tamu kedua, dengan meneliti detail dengan bukti bukti ilmiah, sedangkan konspirator tahap pembuktiannya hanya bersifat dugaaan dengan bukti yang hanya bersifat cocoklogi.jelas pembuktian teori konspirator tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukan oleh ilmuan ahli virus dan vaksin.

2. Logical fallacy Of Hasty Generalization (sesat pikir terlalu mudah menyimpulkan kesimpulan umum dari sesuatu dengan sampel yang terlampau sedikit)

contoh : 

Ada orang meninggal bukan karena korona, oleh pihak rumah sakit dilaporkan meninggal sebab korona, 

Dari sampel yang sangat sedikit diatas lantas ditarik kesimpulan bahwa korona adala akal akalan rumah sakit untk mendapatkan uang dari pemerintah, kesimpulan = korona hoax

Padahal jika kita mau jujur koronya itu nyata adanya, dan rumah sakit yang bermain mengeruk anggaran ditengah wabah juga ada. keduanya sama sama benar jadi tidak bisa ditarik kesimpulan jika korona adalah hoax semata.

3. Logical fallacy of oversimplification (sesat pikir karena terlalu mensimpelkan sesuatu yang sebenarnya rumit)

contoh :

  • arak + es batu = memabukkakn
  • wine + es batu = memabukkan
  • Bir + es batu = memabukkan

Dari 3 sampel diatas lantas diambil kesimpulan jika es batu memabukkan!! (yang seperti ini jelas sesat alur berpikirnya)

Sama seperti seseorang dengan kondisi dan penyakit tertentu kemudian divaksin, setelah vaksin lah kok dilalah meninggal, dari kejadian itu lantas menyimpulkan jika vaksin itu mematikan, alur berpikir seperti ini sama persis sesatnya dengan alur berpikir arak dan es batu diatas.

Ketiga kesalahan alur berpikir diatas sering kita jumpai di masyarakat, terkadang saya mikir, apa iya kita sekolah itu hanya diajari menghafal rumus rumus tanpa pernah tahu dan tanpa pernah diajari bagaimana alur berpikir sehingga rumus itu tercipta? sehingga saat menjumpai kejadian di lamapangan ilmu dari sekolah tak berdaya menghadapi gempuran teori konspirasi yang sangat tidak bertanggungjawab.


Comments

  1. The sum of all of the numbers on the roulette wheel is 666, which is the "Number of the Beast". "Gwendolen at the roulette table" – 1910 illustration to George Eliot's "Daniel Deronda". In other words, even when you did not comprehend it to begin with, when you play long enough, you will be taught that the average loss per sport is 온라인카지노 round 5.26 cents. When the health values have enough distinction, we might use match choice, and when the health values are shut enough, usually, roulette-wheel choice is used.

    ReplyDelete

Post a Comment

Artikel Menarik Lainnya

Kumpulan Link Soal - Soal Latihan Nahwu & Balaghah

Ringkasan Ilmu Nahwu Lengkap

Tuhan Yang Hilang, Menggugat Kebijakan Tuhan..!!

Jawaban Tuduhan Tuduhan Negatif Seputar Tahlilan, Yasinan, dan Selamatan.

Selama Ini Kita Dibohongi Sekolah? Atau Dibodohi Agama?

Agama Lain Pernah Diapain Ajah Sama Islam?

Kumpulan Link Soal - Soal Mufrodat Buku Silsilah Azhar

Logical Fallacies, Mengenal Beberapa Kesalahan Berpikir

Bagaimana Cara Menulis Buku Kemudian Menerbitkannya ?

Antara Baikalsk, Irkutsk Rusia, & Bojonegoro